Jakarta, Humas UNJ – Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) berhasil menembus lima besar dalam Lomba Inovasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Tingkat Provinsi DKI Jakarta yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi DKI Jakarta. Capaian tersebut ditandai dengan pelaksanaan visitasi atau kunjungan lapangan oleh tim dewan juri sebagai tahapan akhir sebelum penentuan pemenang. Kunjungan ini dilaksanakan pada 06 Juni 2026 di Perpustakaan UNJ.
Adapun para tim Juri yang terdiri dari Taufik Asmianto, Upriyadi, Monalisa Silvia Maretha melakukan survey langsung di Biblioteraphy corner yang terletak di lantai 4 gedung perpustakaan UNJ.

Salah satu tim juri, Upriyadi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, menjelaskan bahwa visitasi dilakukan setelah proses seleksi administrasi dan presentasi yang mengerucut peserta menjadi lima besar perpustakaan terbaik di Jakarta.
“Hari ini merupakan tahapan visiting setelah perpustakaan-perpustakaan yang lolos lima besar mengikuti seluruh proses penilaian. Setelah seluruh kunjungan ke lima perguruan tinggi selesai dilakukan, barulah dewan juri akan menentukan para pemenangnya,” ujarnya.
Dalam kompetisi tersebut, Perpustakaan UNJ mengusung inovasi Bibliotherapy Corner, sebuah layanan yang memanfaatkan koleksi buku sebagai media pendampingan emosional dan psikologis bagi sivitas akademika.
Melalui konsep ini, mahasiswa maupun dosen yang menghadapi persoalan pribadi, akademik, maupun tekanan psikologis dapat berkonsultasi dengan pustakawan untuk memperoleh rekomendasi bacaan yang sesuai dengan kondisi yang dialami. Apabila permasalahan yang dihadapi membutuhkan penanganan lebih lanjut, pengguna akan diarahkan ke layanan psikolog yang tersedia di lingkungan UNJ.

Menurut Upriyadi, inovasi tersebut menjadi indikator penting dalam pengembangan layanan perpustakaan modern. Perpustakaan tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang yang berkontribusi terhadap kesehatan mental melalui literasi.
“Inovasi ini menarik karena koleksi perpustakaan tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber informasi, tetapi juga menjadi media terapi yang dapat membantu mengurangi beban pikiran dan memberikan dukungan emosional melalui kegiatan literasi,” katanya.
Selain Bibliotherapy Corner, keberadaan mini theater di Perpustakaan UNJ juga dinilai menjadi nilai tambah. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang penyelenggaraan diskusi, bedah buku, pemutaran film edukatif, hingga berbagai kegiatan literasi yang berkaitan dengan kesehatan mental dan pengembangan diri.
Upriyadi menambahkan bahwa pengembangan inovasi semacam ini membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pimpinan perguruan tinggi, baik dalam penyediaan koleksi, sarana, maupun penguatan program layanan.
Sementara itu, Kepala Perpustakaan dan Kearsipan UNJ, Ummi Siregar, mengatakan bahwa keberhasilan masuk lima besar merupakan hasil dari rangkaian proses yang panjang, mulai dari tahap pendaftaran, presentasi inovasi, hingga akhirnya lolos ke tahap visitasi.
Menurutnya, Bibliotherapy Corner merupakan inovasi yang dikembangkan sebagai bentuk transformasi layanan perpustakaan agar lebih responsif terhadap kebutuhan sivitas akademika.
Ke depan, layanan Bibliotherapy Corner akan disinergikan dengan Pusat Layanan Bimbingan dan Konseling (PLBK) UNJ. Pengguna yang mengalami persoalan psikologis ringan akan diberikan rekomendasi bacaan sesuai kebutuhan emosionalnya, sedangkan kasus yang memerlukan pendampingan profesional akan dirujuk kepada psikolog di PLBK UNJ.
“Gagasan Bibliotherapy Corner merupakan pojok baca reflektif yang dirancang sebagai ruang aman bagi sivitas akademika untuk memahami diri, mengelola emosi, dan menemukan solusi melalui literatur,” jelas Ummi.
Ia mengungkapkan bahwa pengembangan layanan tersebut didasarkan pada tingginya kebutuhan pendampingan psikologis di lingkungan kampus. Tercatat lebih dari 600 klien telah memanfaatkan layanan konseling, sementara jumlah mahasiswa UNJ mencapai hampir 32 ribu orang.
Selain memberikan alternatif pendampingan, inovasi ini juga diharapkan mampu mengurangi stigma negatif terhadap layanan kesehatan mental yang selama ini masih berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa seseorang yang berkonsultasi dengan psikolog identik dengan gangguan kejiwaan atau lemahnya keimanan.
“Bagi kami, perpustakaan juga dapat menjadi bagian dari layanan kesejahteraan emosional melalui pendekatan literasi,” ujarnya.
Ummi berharap Perpustakaan UNJ dapat meraih prestasi terbaik dalam ajang tersebut sekaligus menjadi percontohan bagi perpustakaan perguruan tinggi lainnya di Indonesia. Menurutnya, konsep biblioterapi masih sangat jarang diterapkan secara serius di perpustakaan dalam negeri, meskipun praktik tersebut telah berkembang luas di berbagai negara.
Ummi juga optimistis Bibliotherapy Corner dapat menjadi budaya baru dalam pengembangan layanan perpustakaan sekaligus mendorong lahirnya berbagai inovasi literasi yang lebih humanis, inklusif, dan berdampak bagi kesehatan mental sivitas akademika.