
Mappi, Humas UNJ – Ada perjalanan yang diukur dengan kilometer. Ada pula perjalanan yang diukur dengan ketulusan hati. Bagi tim dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ), perjalanan menuju Kampung Senggo, Distrik Citak Mitak, Kabupaten Mappi, Papua Selatan, bukan sekadar menempuh enam jam perjalanan menggunakan speed boat. Perjalanan itu adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa pendidikan yang bermutu tidak berhenti di kota-kota besar, tetapi juga hadir bagi para guru yang setiap hari mengabdi di pelosok negeri.
Sejak meninggalkan dermaga, bentangan sungai Mappi menjadi satu-satunya jalan yang harus dilalui. Air yang tenang sesekali berganti dengan jalur sempit yang dipenuhi rimbunnya tebu rawa. Tanaman liar yang menjulang tinggi menutupi sebagian lintasan, memaksa perahu melaju perlahan, seakan alam sedang menguji kesungguhan mereka membawa misi pendidikan.
Perjalanan belum selesai. Di tengah sungai yang jauh dari permukiman, mesin speed boat mendadak mati. Perahu berhenti. Tidak ada bengkel. Tidak ada jaringan komunikasi yang dapat diandalkan. Yang ada hanyalah kerimbunan rawa Papua, suara angin yang berembus pelan, serta harapan agar perjalanan dapat kembali dilanjutkan.

Beberapa saat kemudian, setelah dilakukan berbagai upaya perbaikan, mesin kembali menyala. Perahu bergerak perlahan meninggalkan titik henti. Meski menyebabkan keterlambatan hampir dua jam, tak sedikit pun terlintas keinginan untuk membatalkan perjalanan. Sebab di ujung sungai sana, ada para kepala sekolah, guru, dan pengawas sekolah yang telah menunggu. Perjalanan panjang itu merupakan bagian dari pelaksanaan Pelatihan Penguatan Kapasitas dan Kompetensi Kepala Sekolah, Guru, dan Pengawas Sekolah Kabupaten Mappi Tahun 2026, hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Mappi dan Universitas Negeri Jakarta yang berlangsung pada 6–10 Juli 2026.
Tim dosen yang bertugas di Klaster Senggo terdiri atas Daryanto dan Suyuti sebagai fasilitator jenjang SMA, Aan Wasan dan Tunjungsari Sekaringtyas untuk jenjang SMP, Anggi Citra Apriliani dan Taofik untuk jenjang SD, serta Muh. Takdir dan Linda Ika Mayasari sebagai fasilitator kepala sekolah. Mereka juga didukung Agung Gumelar dan Muhammad Roiz Hamidun yang memastikan seluruh kebutuhan teknis pelatihan berjalan dengan baik.
Sesampainya di Dermaga Senggo, rasa letih akibat perjalanan panjang perlahan menghilang. Sambutan hangat para guru menjadi energi baru. Senyum mereka menyampaikan pesan sederhana bahwa perjalanan sejauh apa pun akan terasa bermakna ketika ilmu akhirnya sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Di SMP Negeri Citak Mitak, ruang pelatihan segera dipenuhi semangat belajar. Guru-guru yang datang dari berbagai sekolah mengikuti setiap sesi dengan penuh perhatian. Mereka berdiskusi, bertanya, berbagi pengalaman, bahkan saling menguatkan tentang tantangan mengajar di daerah dengan berbagai keterbatasan.
Di hadapan para peserta, perjalanan panjang yang baru saja dilalui seolah tidak lagi menjadi cerita utama. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap materi yang disampaikan mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.
Salah seorang fasilitator, Daryanto mengaku perjalanan menuju Citak Mitak menjadi pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.
“Perjalanan ini mengingatkan kami bahwa pengabdian tidak selalu berlangsung di ruang yang nyaman. Ketika melihat semangat para guru di Citak Mitak, kami merasa semua tantangan selama perjalanan menjadi sangat berarti. Mereka memiliki keinginan belajar yang luar biasa. Itu menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berbagi ilmu di mana pun dibutuhkan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Tunjungsari Sekaringtyas. Menurutnya, perjalanan menuju Senggo justru memperlihatkan makna sesungguhnya dari profesi pendidik.
“Selama enam jam perjalanan kami menyadari bahwa akses menuju daerah ini memang tidak mudah. Namun sesampainya di sini, kami melihat guru-guru yang setiap hari menempuh perjuangan yang jauh lebih besar untuk mendidik anak-anak Papua. Kami datang membawa materi pelatihan, tetapi pulang membawa pelajaran tentang dedikasi, ketulusan, dan semangat melayani,” tuturnya.
Perjalanan menuju Citak Mitak akhirnya menjadi lebih dari sekadar kisah tentang speed boat yang mogok atau rawa yang menghambat laju perahu. Ia menjadi cerita tentang orang-orang yang memilih tetap melangkah meski jalan yang dilalui penuh tantangan.
Di balik setiap kilometer sungai yang disusuri, tersimpan keyakinan bahwa pendidikan adalah hak setiap anak bangsa. Dan di balik setiap perjalanan panjang itu, hadir dosen-dosen UNJ yang percaya bahwa ilmu pengetahuan akan selalu menemukan jalannya, bahkan hingga ke tepian sungai dan pelosok Papua Selatan.
Sebab pada akhirnya, pengabdian bukan hanya tentang tiba di tujuan. Pengabdian adalah keberanian untuk terus berjalan, agar harapan pendidikan dapat hadir bagi mereka yang selama ini menunggu di ujung perjalanan.